Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Tuesday, January 01, 2008

2008 di Pinggir Selokan


Pagi menjelang siang tadi, anak laki-laki saya, Keenan, tiba-tiba menarik tangan saya dan menggiring saya menuju sendal capit yang terparkir di teras depan. Saya sudah hafal aktivitas yang dia maksud, sekaligus rute perjalanan yang menanti kami. Inilah acara jalan kaki yang kerap ia tagih, yakni satu kali putaran ke jalan belakang di mana tidak ada rumah di sana, hanya tanah kosong berilalang tinggi. Jalan itu menurun dan curam, berbatu-batu besar dan banyak dahan berduri di pinggir kiri-kanan. Terakhir kami berjalan ke sana, kaki Keenan sempat luka karena tersobek duri, tapi entah mengapa ia selalu memilih jalur yang sama.

Sejak sebelum kami berjalan kaki, saya sudah mengamati pagi pertama tahun 2008 ini. Langit yang berawan, angin yang bertiup kencang, dan meski matahari bersinar cukup terang dan terlihat angkasa biru di balik timbunan awan, saya tak bisa mengatakan bahwa ini pagi yang cerah. Masih terasa jejak mendung peninggalan hujan semalam. Kendati demikian, pagi ini pun tak bisa disebut pagi yang mendung.

Sambil berjalan, saya merenungi kesan-kesan saya mengenai pergantian tahun kali ini. Ada keinginan kuat untuk menuliskan sesuatu, semacam refleksi dan sejenisnya. Tapi saya tak tahu harus memulai dari mana, harus menulis apa. Yang ada hanyalah keinginan menulis, tapi tanpa konten. Sejujurnya, alam pagi hari ini cukup mewakili apa yang saya rasakan. Saya melewati pergantian tahun ini dengan ‘abu-abu’. Tak melulu berspiritkan optimisme dan positivitas, tak juga melulu pesimistis dan negativitas. Semuanya hadir bersamaan dengan kadar yang kurang lebih seimbang, sehingga rasa yang tertinggal di batin saya adalah… netral dan datar.

Berbeda dengan kebiasaan saya, terutama di usia 20-an, yang selalu rajin bahkan mensakralkan kebiasaan menulis resolusi, evaluasi, pengharapan dan impian, kali ini saya tak berbekalkan apa-apa. Tak ada resolusi, tak ingin mengevaluasi. Harapan dan impian, yang biasanya kita bawa layaknya tongkat estafet dalam pacuan panjang bernama hidup ini, kali ini bahkan absen dari tangan saya. Cengkeraman jemari saya rasanya tak cukup kuat untuk itu. Bukannya kedua hal itu tak ada, tapi malas rasanya menggenggam. Yang ada hanyalah langkah demi langkah kaki di jalanan berbatu, bertemankan suara gesekan ilalang dan terik matahari yang kian menggigit tengkuk.

Keenan pun menolak digenggam. Dengan semangat, ia berjalan dengan gagah berani tanpa mau saya gandeng. Ia sibuk mengumpulkan batu-batu yang pada akhir perjalanan kami akan dicemplungkannya satu demi satu ke selokan. Dengan kedua tangan penuh bongkah batu, ia berjalan sedikit di depan saya. Tepat di turunan curam, tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh menengadah. Seketika ia menangis, kaget bukan main. Semua batu di genggamannya lepas. Cepat-cepat saya meraih dan memeluknya. Saya melihat sekeliling, betapa banyak batu besar yang bisa saja menjadi landasan kepalanya saat jatuh tadi. Saya pun menyadari perjalanan kecil ini bisa jadi perjalanan yang berbahaya.

Sambil terisak, Keenan mengucap sendiri, “Tidak apa-apa… Keenan tidak apa-apa.” Dan entah mengapa, respons saya padanya adalah, “Ya, tidak apa-apa. Keenan sekali-sekali harus tahu rasanya jatuh.” Lalu kami berdua meneruskan perjalanan. Tak sampai tiga langkah, ia sudah minta turun lagi dari gendongan saya. Kembali berjalan sendiri, memunguti batu-batu baru, yang pada akhir perjalanan kami dicemplungkannya satu demi satu ke selokan.

Saya menunggui Keenan berupacara di pinggir selokan sambil merenungi perjalanan kami pada pagi hari pertama tahun 2008 ini. Akhirnya saya mendapatkan sebuah ‘pesan’. Terlepas dari kepercayaan kita pada sosok Tuhan personal maupun impersonal, semua dari kita setidaknya pernah merasakan hadirnya sebuah kekuatan, energi agung, atau apapun itu, yang tak luput menemani setiap langkah perjalanan hidup kita. Saat kita asyik berjalan, mengumpulkan segala sesuatu yang kita ingin raih, kita tak terlalu menghiraukan kehadiran ‘sesuatu’ itu. Namun saat kita tergelincir dan terenyak luar biasa, segala sesuatu yang kita cengkeram pun lepas. Tangan kita kembali kosong. ‘Sesuatu’ itu akhirnya punya kesempatan untuk muncul dan menyeruak, meraih tangan kita yang sedari tadi sibuk menggenggam. Lama atau sekejap kita didekap, selama perjalanan ini belum usai, tak urung kita akan kembali melangkah. Mengumpulkan kembali pengalaman demi pengalaman yang kita perlukan.

Sambil berjongkok di pinggir selokan, saya merenungi ‘batu-batu’ yang selama ini saya genggam. Besar-kecil, jelek-bagus, semua itu saya kumpulkan karena itulah yang saya perlukan. Jika hidup adalah siklus berputar dalam satu pusaran, cukup relevan jika saya menganalogikannya dengan trayek yang saya tempuh hampir setiap hari bersama Keenan itu. Jalanan berselimut batu, yang meski begitu sering saya jalani, tak pernah saya tahu batu mana yang akan saya genggam berikutnya, dan batu mana yang akan saya lepas sesudah ini. Tak pernah juga saya tahu, kapan saya akan tergelincir dan terpaksa melepaskan semua yang selama ini erat digenggam.

Sekalipun tahun baru ini saya songsong tanpa resolusi dan evaluasi, ada satu keyakinan yang mengiringi langkah saya pulang ke rumah pagi ini. Jika batu dalam genggaman tangan saya lepas, berarti sudah saatnyalah ia lepas. Jika perjalanan ini belum usai, maka kaki ini—meski lelah dan penat—akan kembali terus melangkah. Jika saya tergelincir nanti, maka sesuatu akan menyeruak muncul dari kekosongan, meraih tangan saya yang hampa dan kembali membawa saya bangkit berdiri. Saya tak ingin memberinya nama. Saya tak ingin menjeratnya dalam sebuah identitas. Yang saya tahu, saya bersisian dengannya. Seperti partikel dengan gelombang. Seperti alam material dan imaterial.

Sedikit batu atau banyak batu, melangkah cepat atau lambat, tergelincir atau terjerembap, ia berjalan seiring dengan napas dan denyut saya. Ia membutuhkan saya sama halnya dengan saya membutuhkannya. Dan hanya dalam keheningan, kami berdua hilang. Dalam keheningan, kami bersatu dalam ketiadaan.

Mendadak, adanya resolusi atau tidak, bukan lagi satu hal signifikan. Mendadak, hari ini menjadi hari yang sama berharganya sekaligus sama biasanya dengan hari-hari lain.

Selamat tahun baru 2008.

Saturday, November 03, 2007

A Thank You Note


Beberapa hari yang lalu, seorang wartawan dari majalah lifestyle keluaran baru dari Group Tempo menghubungi asisten saya. Dia ingin mewawancarai saya untuk edisi perdananya yang akan terbit Desember nanti. Kemarin, wartawan dan dua fotografer dari majalah tersebut datang ke rumah saya di Bandung.

Wartawan itu lantas bercerita asal muasal mengapa saya kemudian dipilih menjadi “Story of the Month” untuk edisi perdananya. Sehubungan dengan konferensi di Bali tentang global warming bulan Desember nanti, mereka pun tertarik untuk mengangkat topik lingkungan hidup. Wartawan itu lantas bercerita, bahwa ia menerima tulisan “Harta Karun Untuk Semua” lewat e-mail, dan bukan hanya dari satu sumber, melainkan beberapa. “Setahu saya, tulisan itu juga menyebar di banyak milis,” katanya lagi.

Jujur, saya agak kaget mendengarnya. Namun saya juga teringat, beberapa komentar yang masuk untuk posting itu juga menyebutkan bahwa mereka membaca tulisan itu di milis, atau dikirim via e-mail. Seminggu lalu, saya juga mendapat telepon dari seorang guru piano di Solo, yang ingin mengadakan konser di sekolahnya bertemakan lingkungan, dan ia terinspirasi karena artikel “Harta Karun Untuk Semua”. Setelah membaca artikel yang sama, seorang teman sempat menawari saya menjadi tamu untuk talk show di sekolah anaknya yang juga sedang menggalakkan gerakan sadar lingkungan. Lalu beberapa teman saya pun pernah memberi tahu selewat-dua lewat bahwa mereka membaca artikel itu lewat e-mail yang dikirim massal ke inbox mereka.

Salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara siang itu adalah, “Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”

Jawaban spontan saya adalah: tidak tahu. Saya tidak tahu apakah perbuatan kecil ini akan menurunkan pemanasan global, tidak tahu apakah kompos di rumah saya punya arti dalam menurunkan debit sampah dunia, tidak tahu apakah dengan saya bervegetarian akan punya dampak untuk kesejahteraan makhluk di Bumi ini. Jika optimis, saya akan mengatakan: iya, saya yakin perbuatan saya akan berarti dan bisa mengubah dunia. Jika pesimis, saya akan mengatakan: tidak, perbuatan saya sangat renik dampaknya, semikron debu di tengah padang pasir, dan bukan tandingan dari kondisi global yang dibentuk oleh miliaran manusia plus aneka faktor lainnya.

Saya yakin, pertanyaan berikut pilihan jawaban tadi adalah hal yang pernah terlintas dalam benak kita semua. Dan apa pun kecenderungan sikap kita—pesimis atau optimis—siang itu, saya dan juga wartawan tadi, sesungguhnya melihat sebuah bukti nyata. Artikel yang saya tulis spontan beberapa bulan lalu telah beredar tanpa saya tahu, tanpa bisa saya pantau, dan kembali lagi pada saya suatu hari, dalam bentuk wawancara, inspirasi, pengembangan ide, undangan, dan sebagainya. Artikel itu telah bergulir bak bola salju, menjadi sesuatu yang lebih besar dari ukuran aslinya.

Saya teringat prosesi rutin setiap kebaktian malam Natal, di mana semua jemaat masing-masing memegang sebuah lilin. Berawal dari nyala lilin di mimbar, beberapa lilin lain dinyalakan lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga setiap lilin akhirnya menyala tanpa kecuali. Saya membayangkan, prosesi yang sama sesungguhnya sedang terjadi. Di mana-mana. Di seluruh muka Bumi. Artikel “Harta Karun Untuk Semua” hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak upaya dari umat manusia. Saya tidak memasang alat penghitung di blog ini. Saya tidak tahu ada berapa orang yang berkunjung, selain mereka yang memberi komentar. Namun saya ingin berterima kasih pada semua, yang dengan caranya masing-masing telah membuat sebuah prosesi tak terlihat.

Saya masih belum tahu apakah perbuatan kecil skala rumahan saya punya dampak terhadap dunia. Tapi pertanyaannya, apakah perlu kita menagih bukti? Apakah ada alat atau metode yang secara pasti bisa mengukurnya? Dan jika tidak ada, haruskah kita berhenti? Saya tidak yakin saya bisa mengubah dunia, sebagaimana tulisan tersebut tidak ditujukan untuk mengubah dunia, atau siapa-siapa. Namun saya tahu, yang bisa diubah pada akhirnya hanyalah diri saya sendiri. Itulah lilin kecil yang kita pegang. Nyalanya mungkin tak seberapa, hanya menerangi jemari yang menggenggamnya. Namun jika lilin kecil itu menyala di setiap genggaman orang, tanpa terasa… ruangan gelap itu menjadi benderang. Bukan oleh upaya satu orang, melainkan beramai-ramai.

Saya punya sebuah pembatas buku, berbentuk bulan sabit berwarna perak. Saya beli tujuh tahun yang lalu di sebuah toko buku. Apa yang tertera di pembatas buku itu menggerakkan hati saya, hingga saya putuskan untuk membelinya. Sesekali saya suka mengeluarkannya dari laci, hanya untuk sekadar membaca tulisan yang begitu indah dan bermakna. Sebagai tanda terima kasih saya bagi teman-teman semua, izinkan saya memetik tulisan di pembatas buku itu:

“There are two ways of spreading light:
to be the candle or the mirror that reflects it”
– Edith Wharton –

Semoga hadiah kecil ini mampu menjadi harta karun bagi kita semua.